Neso Kirim Aktifis WALHI dan Mitranya Ikuti Pelatihan Ekologi Politik ke Belanda

22 May 2008

Diperkuatnya pemahaman politik ekologi yang komprehensif akan meningkatkan upaya-upaya advokasi mengenai berbagai permasalahan lingkungan. Konsep ekologi politik mencoba menggabungkan pemahaman perubahan lingkungan dengan konteks politik yang lebih luas, dianalisa dari sudut politik, budaya, sejarah dan ekonomi.

Neso Kirim Aktifis WALHI dan Mitranya Ikuti Pelatihan Ekologi Politik ke Belanda

 Tujuhbelas aktifis lingkungan hidup yang berasal dari kantor perwakilan WALHI dan jaringannya di berbagai daerah di seluruh Indonesia akan mengikuti pelatihan singkat melalui beasiswa StuNed. Direktur Eksekutif Nasional WALHI, Berry N. Furqan, dan Direktur Neso Indonesia, Marrik Bellen, hadir dalam acara pelepasan peserta di kantor Neso, Jakarta.

“Pelatihan Ekologi Politik ini merupakan program StuNed tailor-made training ke-dua bagi WALHI. Neso senang dapat bekerja sama dengan WALHI karena bidang lingkungan memang merupakan salah satu sektor yang di prioritaskan dalam program StuNed. Kami juga berharap melalui pelatihan ini ke-17 aktifis lingkungan yang dikirim akan dapat mengaplikasikan dan menyebarluaskan  pengetahuan yang diperoleh di Belanda sehingga dapat mendukung usaha pemerintah Indonesia untuk pelestarian lingkungan hidup. Pemahaman yang lebih kaya ini akan mejadi dasar untuk mencari solusi-solusi lingkungan yang lebih tepat dengan mengkombinasikan berbagai disiplin dan pendekatan” demikian Marrik Bellen.

”Saat ini masih banyak SDM bidang lingkungan khususnya di WALHI dan jejaringnya yang memiliki keterbatasan pengetahuan dan kemampuan menganalisa kaitan dari sudut perkembangan politik, hukum dan keadilan sosial yang dapat menyebabkan advokasi berjalan tidak efektif. Pelatihan ini menerapkan pola mentoring sehingga memungkinkan WALHI untuk dapat menyebarkan informasi dan pengetahuan yang baru kepada para aktifis lainnya di berbagai daerah, ” demikian Berry N. Furqan, Direktur Eksekutif WALHI

Pelatihan Ekologi Politik  yang akan berlangsung dari tanggal 25 Mei sampai 23 Juni 2008 ini menghabiskan dana sebesar Rp.1,8 milyar. Program ini akan diselenggarakan dalam 3 fase yang berkelanjutan. Fase 1 diselenggarakan di Institute of Social Sciences (ISS) di Den Haag, Belanda selama 4 minggu. Fase ke-2 selama 2 bulan akan dilakukan penelitian mengenai berbagai masalah lingkungan di daerah masing-masing dilihat dari perspektif politik ekologi . Fase terakhir berupa presentasi hasil penelitian dengan mengundang para pemangku kepentingan dan menghasilkan buku atau jurnal untuk nantinya disebarluaskan kepada masyarakat luas.

StuNed untuk program Tailor-made training

StuNed untuk program customized-training dirancang untuk memenuhi kebutuhan pelatihan staf pada institusi-institusi di Indonesia pada sektor-sektor yang terkait dengan pembangunan. Kelebihan program ini adalah dapat diikuti oleh 20 peserta dari institusi  yang sama dan dapat diselenggarakan seluruhnya atau sebagian di Indonesia atau di Belanda. 

Sejak StuNed untuk program customized-training ini diperkenalkan tahun 2005, Neso telah menerima 50 proposal.  Sampai saat ini, 21 proposal sudah disetujui dan 18 diantaranya sudah direalisasikan, yaitu dari BAPPENAS (training untuk  Local Economic Resources Development; beberapa program double degree yang dikoordinir oleh BAPPENAS); Fakultas Ekonomi Universitas Sam Ratulangi (pelatihan mengenai pengembangan kurikulum dan asesmen); Departemen Luar Negeri (program master di bidang hukum internasional); BPK (training untuk Audit di bidang proyek-proyek infrastruktur dan pekerjaan umum);.Fakultas Hukum Universitas Indonesia (pelatihan mengenai socio legal studies); Fakultas Ilmu Keperawatan (pelatihan mengenai clinical nursing); Asosiasi Televisi Lokal Indonesia (pelatihan bagi produser-produser TV lokal); dan BAPPENAS (training untuk pengembangan institusi dalam kaitannya dengan kemitraan pemerintah dan swasta).